Akan kukisahkan
Kisah cintaku sebagai istri kedua :
*
Tak tahu harus kuceritakan dari mana
Awal perjalanan cinta ini
Cinta yang begitu rumit
Yang tak banyak*orang memahaminya
*
Semua ini bukan berawal sejak ia menikahiku
Mungkin sudah sejak aku jatuh cinta kepadanya
Atau sejak aku mengenalnya
Bahkan sebelum kita bertemu rupa
Aku mengenalnya (suamiku) melalui cerita-cerita sahabatku tentang kekasihnya
Ya, suamiku adalah kekasih sahabatku
Atau lebih tepatnya suami sahabatku
Yang sekarang, alhamdulillah, aku pun telah menjadi istrinya
*
Aku mengenalnya dari cerita sahabatku, Dian
Cerita demi cerita itu semakin sering kudengar setiap hari
Kisah cinta mereka
Permasalahan-permasalahan didalamnya
Yang hanya padakulah Dian menceritakannya
Meski belum begitu terjal liku liku pada saat itu
*
Aku sendiri juga tak tahu
Kenapa aku yang dipercayainya untuk mendengarkan semua itu
Dan untuk menyimpan rapat-rapat rahasia di dalamnya
Namun, satu yang kita yakini bersama,
Bahwa kita ini SAUDARA,
Meski tetap berbeda, namun kita ini SATU
Entah kebetulan atau apa,
kita memang sudah ”didekatkan’ sedari dulu
sejak pertama masuk kuliah, meski kita tak menyadarinya
*
pada saat kisah-kisah itu ia percayakan padaku
mungkin pada saat itulah Allah menghendaki kita semakin menyatu
atau mungkin sudah tertulis di suratan takdir
bahwa kita adalah SAUDARA SEJIWA
*
aku pun sangat menikmati kisah-kisahnya
kisah yang unik bagiku dan memberi banyak pelajaran
bahkan menjadi kesenangan bagiku mendengarkannya
dan keeratan persahabatan kita,
semua tak lepas juga dari pengajaran yang ditanamkan kekasihnya
pada kita...
*
Ya Allah, dalam hati ku berkata
Begitu mulia sosok laki-laki dalam kisah ini, kisah cinta sahabatku
Kepribadian dan akhlaknya
Keteguhannya dalam menegakkan agamanya
Kecerdasannya, kebijaksanaannya
Tak kusadari ada rindu dihatiku
Pada sosok seorang laki-laki dalam hidupku
20 tahun aku menutup diri,
Tak ingin dijamah lelaki
Meski beberapa cinta semu pernah kulalui
Karna ingin kupersembahkna diri ini
Untuk lelaki pertama dan terakhir dalam hidupku
Suamiku, imamku, di dunia dan di akhirat
*insyaAllah*
Tak pernah kusangka
Bahwa lelaki yang selalu diceritakan sahabatku inilah
Yang membuka pintu rindu itu
Rindu akan belahan jiwa
Kerinduan pada kekasih hati
Namun belum berani kumenilai apa yang kurasakan
Hanya dalam hati, kuberdoa
Semoga kelak kudapatkan lelaki sepertinya
Apa aku hanya kagum dengan kemuliaan lelaki ini
Kemuliaan seorang lelaki, yang semakin lama kumengenalnya,
kudapati, bahwa ia adalah kekasihNya
Karena dia bukan laki-laki biasa
Dia laki-laki yang terpilih, menjadi kekasih yang dicintaiNya
Ya Allah, bagaimana bisa, ada semacam tarikan darinya
Yang begitu halus, tanpa penolakan di hatiku
Yang saat ini, bisa kukatakan, aku sudah terseret dalam tarikan itu
Ikatannya kuat dan tak mungkin bisa kulepas
Apakah ini dari Tuhan???
Atau hanya sebuah kesalahan dan kebodohan???
Apakah ini memang sudah suratan takdir
Atau memang hanya sebuah kebetulan semata
Kudapati kabar dari sahabatku Dian
Bahwa kekasihnya, mas Sulaiman *ya, namanya adalah Sulaiman*
Ingin mengenalku
Ada sedikit tanya dalam hati
Kenapa ingin mengenalku
Kenapa ingin berteman denganku
Ahh, tapi segera kutepis pikiran itu
Apa salahnya berteman dengannya
Yang kuyakini akan membawa kebaikan
*
Jadilah ia meneleponku untuk yg pertama kalinya, malam itu
Memang tak ada rasa yang kurasakan saat itu
Tidak juga dengan pikiran yang aneh-aneh
Namun, kenapa aku sedikit deg-degan
Mungkin baru pertama kenalan
Apalagi ia menggunakan bahasa jawa yang kental
Berbicara padaku dengan kromo inggil
Kucoba buang jauh-jauh deg-degan yang menguntit
Mulailah bercakap seadanya, dengan campuran tawa
Ya, saat itulah, aku pertama kali berbicara dengannya
Dan juga saat yang mengawali silaturahmi selanjutnya
Sms-sms mengiringi di kemudian harinya
*
Dari sms-sms itu
Ia mengajari banyak hal
Tentang ilmu-ilmu
Tentang hidup
Dan tentang mengenal Tuhan
Ya, dialah orang yang mengajariku pada Ketauhidan
Dapat kurasakan niat baiknya
Bahwa siapa yang dikenalnya
Adalah semata-mata untuk mengikat tali silaturahmi karena Allah
Tak pernah sedikit pun, kata-kata yang dikirimkannya tidak bermanfaat
Semua penuh makna
Meski saat itu aku sulit memahami kata-katanya
Yang kuanggap tingkat tinggi bahasa
Penyair barangkali, atau seorang bijak lebih tepatnya
Dari sana tergambar keluasan ilmunya
Tergambar pula ketinggian budinya
Oohh, ada gembira dihatiku
Entah karena apa
~24 Oktober 2011~
